Terkecil = korban

Posted: 28 Juli 2010 in Belajar Nulis

Sering kali di Jakarta ini kita lihat para pengedara motor menaiki trotoar utk menerobos kemacetan atau menaiki jembatan penyebrangan atau melawan arus, bahkan disertai dengan klakson agar orang-orang bisa memberikan mereka jalan..

Atau sering kita melihat para pengendara sepeda menggunakan jalur cepat yg nota benenya dikhususkan bagi kendaraan roda empat atau lebih sehingga menimbulkan sedikit tersendatnya kecepatan kendaraan yg ada dibelakangnya.

Atau juga kita sering kali mengalami dimana para supir angkutan umum memakirkan kendaraan baik itu secara individu atau berkelompok di jalan raya padahal itu bukan tempat mereka bisa mangkal bahkan hal itu bisa terlihat secara kasat mata di jalan protokol yang banyak dilalui orang.

Serta juga mobil-mobil pribadi yg mengambil jalur lainnya utk menghindari kemacetan atau utk memangkas jalan agar bisa cepat sampai tujuan..

Sebenarnya contoh-contoh hall diatas itu salah ndak sihh..? Atau memang itu hal yg biasa terjadi dikeseharian kita sehingga hal-hal tersebut menjadi suatu hal yg biasa dan bisa dimaklumi. Atau bahkan itu sudah menjadi hal-hal yg tidak bisa disentuh oleh hukum atau peraturan yang ada.

Pernah ada pertanyaan yg ditanyakan ke pengendara sepeda yg menggunakan jalur cepat , kenapa dia lebih memilih jalur cepat dibandingkan jalur lambat yg memang diperuntukan bagi pengendara sepeda..? Jawabannya adalah di jalanan kita harus pintar-pintar mencari celah utk bisa cepat sampai tujuan lagipula kita kan mengendarai sepeda harusnya lebih mendapatkan kemakluman dari para pengguna kendaraan lainnya. Seganggu apa sih kita menggunakan jalur cepat terhadap laju kendaraan lainnya, emangnya ada hukun yg tertulis yahh…?

Waduhhh… jawabannya seru juga… lain dengan jawaban para pengendara motor yg mengatakan bahwa jalanan sudah penuh sesak dengan mobil, jadi merekapun harus cari cara utk bisa menghindari kemacetan akibat mobil-mobil itu, kalo para pengemudi angkutan umum lebih klasik, mereka berujar ini urusan perut, harusnya lebih maklum lahh para orang-orang kaya lainnya. Kalo pengendara mobil pibadi mereka beralasan, bagaimana mau cepat sampai kalo jalanan dibikin macet oleh motor dan bis2 umum..

Setiap pihak ternyata punya kepentingan dan merasa menjadi penderita akibat ulah dari pengendara lainnya, bagaimana para pejalan kaki yahh…? Mungkin pejalan kaki jadi “korban-korban” dari pengendara laiinya. Bingung juga kalo gini…

Apa yg sebenarnya dibutuhkan yahh utk bisa mengatasi keruwetan ini, walalupun saya berkayakinan masih ada kok para pengguna jalan yg mempunyai toleransi yg tinggi terhadap pengguna jalan lainnya, walaupun dalam kenyataan banyak hal2 di atas kita sering sekali menyaksikan bahkan banyak sekali terjadi.

Mungkin dinegara ini pihak yg paling kecil memang sudah kodratnya menjadi korban atau memang peraturan dan perudang-undangan di negara ini belum menyentuh sampai pihak yg terkecil..?? Siapa yahh kira2 yg bisa menjawab .. hmmmmmm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s